SuaraPeradilanNews-
Kabut tipis masih menyelimuti
perbukitan Kendeng saat langkah-langkah kaki tanpa alas mulai membelah
kesunyian tanah Kanekes. Ribuan pria mengenakan busana sederhana, menggendong
hasil bumi dengan kayu pemikul, berjalan dalam barisan panjang yang seolah tak
terputus oleh jarak. Inilah momen ketika peradaban modern dan keteguhan tradisi
bertemu dalam sebuah harmoni yang mengharukan sekaligus penuh wibawa.
Di bawah terik matahari atau guyuran hujan, mereka melangkah puluhan hingga ratusan kilometer dengan satu tekad spiritual yang murni.
Secara historis, Seba berakar pada tradisi penghormatan kepada penguasa wilayah yang sudah berlangsung sejak zaman Kesultanan Banten hingga pemerintah Republik Indonesia. Konteks geografis pegunungan Kendeng yang terisolasi menjadikan ritual ini sebagai jembatan komunikasi bagi Suku Baduy untuk menyampaikan pesan lingkungan. Seba adalah pernyataan bahwa alam yang terjaga adalah kunci kemakmuran bagi seluruh umat manusia.
Dalam peta budaya Indonesia, Seba Baduy menempati posisi yang sangat otoritatif sebagai representasi kearifan lokal dalam konservasi alam. Upacara ini mencerminkan ketaatan luar biasa terhadap pikukuh atau aturan adat yang melarang penggunaan alas kaki bagi warga Baduy Dalam. Tradisi ini menjadi pengingat bagi dunia luar bahwa kesederhanaan adalah bentuk kekuatan yang paling tinggi.
Daya tarik Seba terletak pada keteguhan hati para pesertanya yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dan kemandirian. Masyarakat dunia melihat Seba sebagai even fenomena sosiologis di mana nilai-nilai tradisional mampu bertahan di tengah arus globalisasi yang kian kencang. Ritus ini membuktikan bahwa hubungan antara manusia dan penguasa harus dilandasi oleh rasa syukur dan tanggung jawab ekologis.
Acara yang akan digelar pada dinten Jum'ah, 24 April 2026
Mari Kita sambut, Eksplorasi terhadap upacara adat
suku baduy ini akan membawa kita memahami betapa dalamnya pemikiran Urang
Kanekes tentang eksistensi manusia. Setiap langkah kaki mereka di aspal jalanan
kota menuju pusat pemerintahan adalah doa yang bergerak demi keselamatan bumi.
Mari kita bedah lebih dalam mengenai rangkaian ritus, hingga panduan
bagi Anda yang ingin menyaksikan ritual seren tahun budaya ini./ADV




0 Komentar untuk "Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 sebagai Aset Budaya "Warisan Karuhun, Inspirasi Kiwari, Ngahiji Dina Tradisi""