LEBAK – Peringatan Hari Tani Nasional ke-66 di Kabupaten Lebak menjadi momentum krusial untuk kembali meneguhkan peran vital petani dalam pembangunan ekonomi sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah. Rangkaian kegiatan yang dipusatkan di Alun-Alun Timur Rangkasbitung pada Rabu (23/9/2026) ini tidak hanya diisi oleh berbagai acara kemasyarakatan, melainkan juga menjadi ruang strategis untuk mengurai peluang dan tantangan nyata di sektor pertanian.
Sejumlah persoalan mendasar yang menjadi fokus perhatian dalam peringatan tahun ini meliputi akses infrastruktur, kelancaran distribusi hasil panen, ketersediaan lahan pertanian, pemberdayaan petani, hingga penguatan pasar bagi produk lokal dari hulu ke hilir.
Bupati Lebak, Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas pelaksanaan kegiatan yang diinisiasi oleh organisasi Tani Merdeka Indonesia (TMI) tersebut. Menurut Hasbi, momentum Hari Tani Nasional tidak boleh sekadar menjadi seremonial, melainkan harus mendorong langkah nyata yang memberikan dampak kesejahteraan langsung bagi masyarakat, khususnya para petani di Lebak.
Peluang Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Salah satu peluang besar yang disoroti dalam forum tersebut adalah rencana implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program nasional ini dinilai dapat membuka ruang penyerapan yang sangat masif bagi hasil pertanian lokal, dengan catatan rantai pasoknya mampu dibangun dan dikelola dengan baik.
“MBG tadi disampaikan bisa membuka peluang ekonomi. Artinya hasil-hasil bumi, hasil panen ataupun hasil tani ini bisa disalurkan,” ujar Bupati Hasbi di sela-sela acara.
Genjot Infrastruktur Jalan Usaha Tani
Kendati memiliki peluang pasar yang besar, Hasbi menekankan bahwa peningkatan kesejahteraan petani tidak akan cukup jika hanya mengandalkan bantuan produksi. Infrastruktur penunjang, terutama akses jalan yang menghubungkan sentra pertanian menuju pasar, menjadi mata rantai krusial yang wajib diperkuat agar proses distribusi menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien.
Sebab, kondisi jalan yang rusak atau tidak memadai terbukti meningkatkan beban biaya distribusi logistik. Pada akhirnya, tingginya biaya tersebut akan menekan nilai jual hasil pertanian di tingkat petani.
Sebagai wujud komitmen mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Kabupaten Lebak menargetkan pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT/JOT) di 17 titik strategis sepanjang tahun 2026 ini melalui skema belanja hibah.
“Komitmen saya, kita bersama-sama kolaborasi dengan daerah, dengan kepala dinas, juga dengan kelompok petani. Kita ingin petani ini nyaman,” tegas Hasbi.
Di samping masalah infrastruktur, Pemkab Lebak juga menyoroti masih banyaknya petani di lapangan yang belum tergabung dalam kelompok tani resmi. Kondisi ini kerap menjadi kendala administratif ketika petani ingin mengakses berbagai program pembinaan, subsidi pupuk, maupun bantuan alat mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah. Oleh sebab itu, penguatan kelembagaan petani menjadi agenda mendesak agar regulasi dan bantuan pemerintah berjalan lebih efektif dan berdampak luas.
TMI Dorong Reforma Agraria dan Kemitraan Industri
Sementara itu, Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia (TMI), Don Muzakir, menjelaskan bahwa peringatan Hari Tani Nasional ke-66 ini digerakkan secara serentak melalui jaringan TMI yang tersebar di sekitar 295 DPD di 29 provinsi di Indonesia.
Dalam orasinya, Don Muzakir menempatkan Reforma Agraria sebagai agenda prioritas. Baginya, penyelesaian isu pertanian tidak boleh hanya berkutat pada urusan kuantitas produksi, melainkan harus menyentuh aspek keadilan akses lahan serta pendampingan pasca-produksi.
“Reforma agraria bukan hanya bagi-bagi tanah, tapi pemberdayaan petani juga yang sudah mendapatkan tanah juga penting sekali dilakukan,” jelas Don Muzakir.
Selain reforma agraria, TMI juga mendorong pemanfaatan komoditas lokal bernilai ekonomi tinggi yang potensial dikembangkan di Lebak, seperti singkong, jagung, dan tebu. Don Muzakir berharap pengembangan komoditas ini tidak berhenti pada tahap budidaya tradisional (on-farm), melainkan harus terintegrasi langsung dengan kebutuhan sektor industri hilir. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan rantai nilai (value chain) yang lebih panjang dan mendongkrak pendapatan riil para petani.
Sebagai langkah konkret, Don Muzakir mengungkapkan bahwa saat ini telah disiapkan lahan seluas sekitar 40 hektare di Kabupaten Lebak yang diproyeksikan khusus untuk pengembangan komoditas tebu nasional.
Secara keseluruhan, peringatan Hari Tani Nasional ke-66 di Kabupaten Lebak membawa pesan kuat bahwa pembangunan sektor agraris harus melihat kehidupan petani secara utuh. Untuk berkembang sebagai daerah agraris yang maju, petani membutuhkan ekosistem yang sehat: lahan yang produktif, infrastruktur yang memadai, akses sarana produksi yang mudah, kelembagaan kelompok yang solid, hingga kepastian pasar dengan nilai jual yang layak dan memanusiakan hasil keringat mereka.
Tag :
Nasional





0 Komentar untuk "Momentum Hari Tani Nasional ke-66 di Lebak: Pemkab Targetkan 17 Titik Jalan Usaha Tani dan Bidik Peluang Makan Bergizi Gratis"